Epistemic Curiosity: Rasa Ingin Tahu sebagai Inti dari Deep Learning
Surabaya — Setiap penemuan besar dalam sejarah ilmu pengetahuan berawal dari satu hal sederhana: rasa ingin tahu. Dalam ranah pendidikan, rasa ingin tahu ini disebut epistemic curiosity — dorongan batin untuk memahami, bukan sekadar mengetahui. Ia adalah bahan bakar utama dari deep learning, pembelajaran yang berakar pada keinginan tulus untuk mencari makna.
George Loewenstein (1994)
menggambarkan epistemic curiosity sebagai kondisi “kekurangan
pengetahuan yang disadari,” yakni rasa tidak puas yang mendorong seseorang
mencari jawaban. Ketika seseorang menyadari bahwa ia belum tahu, maka proses
belajar sejati pun dimulai. Rasa ingin tahu ini berbeda dari sekadar keinginan
memperoleh informasi; ia menuntut keterlibatan intelektual dan refleksi yang
mendalam terhadap apa yang sedang dipelajari.
Dalam konteks pendidikan
doktoral, rasa ingin tahu bukan hanya titik awal penelitian, tetapi juga kompas
yang menuntun arah berpikir ilmiah. Mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan UNESA didorong
untuk mempertanyakan hal-hal yang tampak biasa: mengapa fenomena pendidikan
tertentu terjadi, bagaimana nilai-nilai membentuk perilaku belajar, atau sejauh
mana teori klasik masih relevan di masa kini. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang
menghidupkan penelitian dan menjaga semangat ilmiah tetap menyala.
Deep learning tidak
mungkin terjadi tanpa rasa ingin tahu yang mendalam. Ketika mahasiswa hanya
berfokus pada hasil akhir — publikasi, indeks sitasi, atau kelulusan — proses
belajar kehilangan ruhnya. Namun, ketika mereka digerakkan oleh dorongan untuk
memahami, setiap data, teori, dan temuan menjadi bagian dari perjalanan
intelektual yang bermakna.
UNESA menumbuhkan budaya epistemic
curiosity melalui desain pembelajaran yang reflektif dan eksploratif.
Mahasiswa diajak untuk mengembangkan pertanyaan penelitian yang lahir dari
kepekaan terhadap realitas pendidikan. Dalam seminar dan diskusi, setiap
pertanyaan yang diajukan bukan untuk dijawab cepat, melainkan untuk didalami
bersama.
Rasa ingin tahu juga menjadi
jembatan antara disiplin ilmu. Seorang mahasiswa yang penasaran dengan hubungan
antara psikologi belajar, teknologi, dan budaya, misalnya, sedang berada di
jalur interdisciplinary deep learning — cara berpikir lintas bidang yang
melahirkan inovasi konseptual baru.
Dalam dunia yang sering terjebak
pada kecepatan, epistemic curiosity mengingatkan kita untuk berhenti
sejenak dan bertanya lebih dalam. Ia mengembalikan pendidikan kepada fitrahnya:
proses pencarian makna yang berkelanjutan.
Program Doktor Ilmu Pendidikan
UNESA menegaskan bahwa tugas utama seorang ilmuwan bukan hanya menjawab
pertanyaan, tetapi terus berani bertanya. Sebab di setiap pertanyaan yang lahir
dari keingintahuan, tersimpan kemungkinan lahirnya pengetahuan baru — dan
itulah inti sejati dari deep learning.
Tim Redaksi S3 Ilmu Pendidikan
UNESA