Panduan Menyusun Proposal Penelitian yang Visioner dan Realistis
Surabaya — Proposal penelitian merupakan peta jalan bagi setiap mahasiswa doktoral dalam merancang karya ilmiah yang bermakna. Sebuah proposal yang baik tidak hanya menjelaskan apa yang akan diteliti, tetapi juga menunjukkan arah berpikir peneliti — sejauh mana ia mampu memadukan visi teoritik dengan realitas empiris di lapangan. Tantangannya adalah menulis proposal yang visioner secara intelektual, namun tetap realistis secara metodologis.
Langkah pertama adalah menemukan
fokus penelitian yang relevan dan bermakna. Peneliti perlu mengidentifikasi
kesenjangan (gap) antara teori dan praktik pendidikan. Misalnya, dalam konteks
pembelajaran mendalam (deep learning), masih banyak ruang untuk mengkaji
bagaimana strategi reflektif dapat memperkuat literasi berpikir kritis siswa.
Fokus yang jelas akan membantu peneliti menghindari tema yang terlalu luas dan
sulit dioperasionalkan.
Langkah kedua, rumuskan
pertanyaan penelitian yang tajam dan terarah. Pertanyaan yang baik selalu
mencerminkan kedalaman berpikir. Alih-alih menanyakan “Bagaimana efektivitas
metode X?”, pertanyaan yang lebih bermakna bisa berbunyi “Bagaimana interaksi
antara strategi pembelajaran reflektif dan pengalaman belajar siswa dalam
konteks literasi mendalam?” Pertanyaan semacam ini menuntut eksplorasi
konseptual, bukan sekadar pengukuran angka.
Langkah ketiga, bangun
kerangka teori yang argumentatif dan logis. Kerangka teori berfungsi
sebagai fondasi berpikir dan arah interpretasi data. Teori yang dipilih harus
selaras dengan fokus penelitian, dan bukan sekadar daftar rujukan. Dalam
tradisi penelitian pendidikan, teori sering kali berperan sebagai “kompas epistemik”
— memberi arah terhadap bagaimana peneliti memandang realitas belajar.
Langkah keempat, pilih desain
penelitian yang sesuai dengan karakter masalah. Penelitian kualitatif,
kuantitatif, atau campuran memiliki kekuatan dan keterbatasannya masing-masing.
Yang penting bukan jenisnya, melainkan konsistensi antara tujuan, metode, dan
analisis. Penelitian yang visioner tetap memegang kendali metodologis agar
hasilnya dapat diuji dan direplikasi secara ilmiah.
Langkah kelima, tuliskan
kontribusi teoritis dan praktis secara eksplisit. Bagian ini sering
diabaikan, padahal menjadi pembeda utama antara penelitian doktoral dan tingkat
sebelumnya. Kontribusi teoritis menunjukkan bagaimana riset memperkaya
pengetahuan, sedangkan kontribusi praktis menjelaskan implikasinya bagi
kebijakan atau praktik pendidikan.
Menurut Creswell (2018), proposal
yang kuat selalu memadukan “clarity and curiosity”: kejelasan metodologis dan
rasa ingin tahu ilmiah. Dua hal ini menjadikan proposal tidak hanya layak
diuji, tetapi juga layak diperjuangkan dalam proses disertasi.
Program S3 Ilmu Pendidikan UNESA
menekankan pentingnya menulis proposal yang bernilai transformatif — bukan
hanya memenuhi prosedur akademik, tetapi juga memberi arah baru bagi penelitian
pendidikan di Indonesia. Visi yang tinggi harus berjalan seiring dengan desain
yang dapat dijalankan, agar penelitian benar-benar berkontribusi terhadap
pengembangan ilmu dan kemanusiaan.
Tim Redaksi S3 Ilmu Pendidikan
UNESA