Mengenal Analisis Jalur dan SEM dengan AMOS untuk Penelitian Pendidikan
Surabaya — Dalam penelitian pendidikan, memahami hubungan antarvariabel tidak cukup hanya dengan korelasi sederhana. Banyak fenomena pendidikan yang bersifat kompleks, melibatkan variabel mediasi, moderasi, atau konstruk laten yang tidak dapat diukur secara langsung. Untuk menjawab kompleksitas tersebut, AMOS (Analysis of Moment Structures) hadir sebagai alat bantu yang kuat melalui analisis jalur (path analysis) dan Structural Equation Modeling (SEM).
Analisis jalur merupakan langkah
awal dalam memahami bagaimana satu variabel memengaruhi variabel lain, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Misalnya, pengaruh literasi digital
terhadap hasil belajar mungkin dimediasi oleh motivasi dan kemandirian siswa.
Hubungan semacam ini sulit dijelaskan hanya dengan regresi sederhana, karena
melibatkan banyak jalur penyebab yang saling berhubungan.
Langkah pertama dalam menggunakan
AMOS adalah menyiapkan model konseptual berbasis teori. Model ini bukan
sekadar gambar panah, tetapi representasi logika berpikir ilmiah peneliti.
Misalnya, teori deep learning dapat dijadikan dasar untuk menggambarkan
bagaimana refleksi diri (variabel laten) memengaruhi keterlibatan belajar dan
hasil pemahaman konseptual. Setiap panah dalam model mencerminkan hipotesis
yang ingin diuji.
Setelah model teoritik siap,
tahap berikutnya adalah mengimpor data dari SPSS ke AMOS. Pastikan nama
variabel identik di kedua program agar proses sinkronisasi berjalan lancar. Di
AMOS, variabel dapat digambarkan menggunakan ikon ellipse (untuk
variabel laten) dan rectangle (untuk variabel terukur). Jalur hubungan
antarvariabel dapat digambar menggunakan tanda panah satu arah (regresi) atau
dua arah (korelasi).
Langkah ketiga, menjalankan
estimasi model menggunakan metode Maximum Likelihood (ML). AMOS kemudian
akan menghasilkan berbagai ukuran fit model seperti:
- Chi-square (χ²) — menunjukkan kesesuaian
model dengan data (nilai kecil lebih baik).
- CFI (Comparative Fit Index) dan TLI
(Tucker-Lewis Index) — idealnya > 0,90.
- RMSEA (Root Mean Square Error of Approximation)
— idealnya < 0,08.
Indeks tersebut membantu peneliti
menilai apakah model yang diajukan sesuai dengan data empiris. Namun,
angka-angka tersebut tidak boleh ditafsirkan secara mekanis. Dalam pendekatan
pendidikan, model yang “fit” bukan berarti sempurna, melainkan masuk akal
secara teoretis dan empiris.
Langkah keempat, menafsirkan
hasil analisis jalur. AMOS akan menampilkan nilai standardized
regression weights (koefisien jalur), yang menunjukkan seberapa kuat
pengaruh antarvariabel. Misalnya, jika nilai pengaruh refleksi terhadap
keterlibatan belajar adalah 0,62 (p < 0,001), berarti refleksi memiliki
pengaruh positif yang signifikan terhadap keterlibatan. Peneliti kemudian harus
menjelaskan makna temuan ini dengan mengacu pada teori atau penelitian
sebelumnya.
Langkah terakhir, memeriksa
validitas dan reliabilitas konstruk laten melalui Confirmatory Factor
Analysis (CFA). Konstruk yang valid menunjukkan bahwa
indikator-indikatornya benar-benar mengukur konsep yang dimaksud. Nilai factor
loading di atas 0,50 biasanya dianggap baik, sementara reliabilitas
komposit (CR) dan Average Variance Extracted (AVE) digunakan untuk
menilai konsistensi internal.
Menurut Hair et al. (2019), SEM
bukan sekadar alat statistik, melainkan cara berpikir ilmiah yang menghubungkan
teori dan data dalam satu sistem yang utuh. Peneliti pendidikan yang memahami
SEM tidak hanya menguji hubungan numerik, tetapi juga mengevaluasi apakah teori
yang digunakan mampu menjelaskan realitas belajar secara holistik.
Program S3 Ilmu Pendidikan UNESA
mendorong mahasiswa untuk menggunakan AMOS sebagai sarana pengembangan literasi
analitis tingkat tinggi — memadukan pemodelan teoritik, logika statistik, dan
refleksi pendidikan. Melalui pendekatan ini, penelitian tidak hanya
menghasilkan angka, tetapi juga makna yang mendalam bagi pengembangan ilmu dan
praktik pendidikan.
Tim Redaksi S3 Ilmu Pendidikan
UNESA