Strategi Menemukan Gap Riset Pendidikan dari Literatur Internasional
Surabaya — Salah satu tantangan terbesar mahasiswa doktoral adalah menemukan research gap atau celah penelitian yang relevan, orisinal, dan bermakna. Tanpa kejelasan gap, disertasi akan kehilangan arah dan kontribusi ilmiahnya menjadi kabur. Menemukan gap bukan sekadar mencari topik yang belum diteliti, tetapi memahami dinamika wacana keilmuan dan menemukan ruang di mana ide baru dapat tumbuh secara argumentatif.
Langkah awal dalam menemukan research
gap adalah membangun peta literatur internasional. Gunakan sumber
bereputasi seperti Scopus, Web of Science, atau ERIC untuk menelusuri
artikel-artikel mutakhir dalam lima tahun terakhir. Peneliti dapat
mengelompokkan hasil pencarian berdasarkan tema, teori, metodologi, dan konteks
penelitian. Proses ini membantu melihat pola: isu apa yang sering diteliti,
teori apa yang mendominasi, dan pendekatan apa yang masih jarang digunakan.
Langkah kedua, lakukan analisis
tematik terhadap literatur utama. Teknik thematic coding
memungkinkan peneliti untuk menemukan benang merah antarartikel. Misalnya,
dalam bidang pembelajaran mendalam, banyak penelitian menyoroti efektivitas
strategi reflektif, tetapi sedikit yang mengkaji bagaimana faktor budaya
memengaruhi penerapan deep learning di konteks Asia Tenggara. Celah
semacam ini dapat menjadi pintu masuk bagi penelitian baru yang kontekstual dan
bernilai akademik tinggi.
Langkah ketiga adalah membaca
secara kritis dan membandingkan posisi teori. Peneliti perlu menanyakan:
teori apa yang sering dipakai? Adakah asumsi yang tidak relevan dengan konteks
lokal? Di titik ini, gap bisa muncul bukan karena topiknya baru, tetapi
karena pendekatannya belum dikritisi. Brookfield (2017) menyebut hal ini
sebagai critical scholarship — kemampuan membaca literatur dengan
kesadaran epistemologis, bukan sekadar informatif.
Langkah keempat, perhatikan rekomendasi
penelitian lanjutan yang sering muncul di akhir artikel internasional.
Kalimat seperti “Future research may explore…” sering kali menyimpan
peluang gap yang dapat disesuaikan dengan konteks pendidikan Indonesia.
Namun, peneliti perlu berhati-hati agar tidak sekadar “menambal” rekomendasi,
tetapi benar-benar memahami substansi permasalahannya.
Langkah kelima, rumuskan research
gap dalam bentuk peta konseptual yang argumentatif. Peta ini dapat
memuat empat komponen utama: (1) wacana umum, (2) fokus yang sering diteliti,
(3) area yang terabaikan, dan (4) kontribusi unik penelitian yang akan
dilakukan. Visualisasi seperti ini membantu pembimbing dan pembaca memahami
dengan cepat posisi riset dalam peta keilmuan global.
Menemukan research gap
membutuhkan ketekunan membaca, ketajaman berpikir, dan keberanian berargumen.
Bagi mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan UNESA, kemampuan ini menjadi bekal penting
untuk membangun disertasi yang tidak hanya “baru”, tetapi juga “bermakna” —
riset yang menjawab persoalan nyata dan memperkaya percakapan global tentang
pendidikan.
Dalam paradigma deep learning,
menemukan gap bukan hanya soal menemukan ruang kosong, tetapi menggali
kedalaman makna di antara tumpukan pengetahuan yang sudah ada. Di situlah
seorang peneliti sejati menemukan suaranya sendiri di tengah gemuruh literatur
dunia.
Tim Redaksi S3 Ilmu Pendidikan
UNESA