Transformasi Kurikulum di Era Deep Learning: Dari Kompetensi Menuju Pemaknaan
Surabaya — Dunia pendidikan terus bergerak, dan kurikulum berada di pusat perubahan itu. Selama bertahun-tahun, kurikulum sering dipahami sebagai daftar kompetensi, silabus, atau sekumpulan tujuan pembelajaran. Namun dalam paradigma deep learning, kurikulum bukan sekadar peta jalan belajar — ia adalah ruang pencarian makna.
Lawrence Stenhouse, salah satu
pemikir kurikulum modern, menyebut kurikulum sebagai “hipotesis yang harus
diuji dalam tindakan.” Artinya, kurikulum tidak boleh berhenti pada dokumen,
tetapi harus hidup melalui praktik dan refleksi. Dalam konteks deep learning,
kurikulum perlu memberi ruang bagi peserta didik untuk mengeksplorasi ide,
mengajukan pertanyaan, dan menemukan hubungan antar konsep yang bermakna bagi
dirinya.
Transformasi kurikulum berarti
menggeser orientasi dari penguasaan konten menuju pengembangan kesadaran
berpikir. Di tingkat doktoral, hal ini berarti menempatkan mahasiswa bukan
hanya sebagai penerima teori, tetapi sebagai pembangun teori. Kurikulum yang
mendukung deep learning memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk
mengalami, menginterpretasi, dan mengkonstruksi pengetahuan secara mandiri,
disertai bimbingan reflektif dari dosen pembimbing.
S3 Ilmu Pendidikan UNESA
menerapkan prinsip ini dengan memadukan pendekatan riset dan refleksi dalam
setiap mata kuliah. Setiap topik teori pendidikan tidak hanya dikaji dari segi
historis dan konseptual, tetapi juga dikaitkan dengan realitas empiris pendidikan
di Indonesia. Mahasiswa diajak menganalisis kasus, merancang intervensi, dan
mendiskusikan hasilnya dalam forum akademik terbuka. Proses ini menciptakan
pengalaman belajar yang berlapis — dari kognitif menuju transformasional.
Transformasi kurikulum juga
berarti mengintegrasikan nilai-nilai kemanusiaan dan etika keilmuan. Deep
learning tidak hanya menuntut kecerdasan logika, tetapi juga kebijaksanaan
moral. Dalam setiap penelitian, mahasiswa diingatkan untuk melihat manusia
bukan sebagai objek, tetapi sebagai subjek pengetahuan yang hidup.
Ketika kurikulum didesain untuk
menumbuhkan refleksi, kolaborasi, dan pencarian makna, pendidikan melampaui
batas administratifnya. Ia berubah menjadi proses yang mendewasakan cara
berpikir dan memperluas kesadaran.
Melalui pendekatan ini, Program
Doktor Ilmu Pendidikan UNESA menegaskan bahwa transformasi kurikulum bukan
proyek sesaat, melainkan perjalanan menuju pendidikan yang lebih manusiawi dan
mendalam. Kurikulum tidak lagi hanya menjawab apa yang harus dipelajari,
tetapi juga mengapa dan untuk siapa pengetahuan itu bermakna.
Tim Redaksi S3 Ilmu Pendidikan
UNESA