Unesa dan Desa Ketapanrame Bangun Kohesi Sosial Melalui Konseling Kelompok
Mojokerto, 28 Oktober 2025 — Tim dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar kegiatan Konseling Kelompok untuk Penguatan Kohesi Sosial di Joglo Serba Guna Sumber Gempong, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Kegiatan ini menjadi bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Ilmu Pendidikan Unesa yang berfokus pada Community-Based Social Engineering di wilayah desa industri.
Tim pemateri Unesa
dipimpin oleh Dr. Rofik Jalal Rosyanafi, M.Pd. selaku ketua pelaksana, dengan anggota tim yang terdiri
dari Prof. Dr. H. Muhammad Turhan Yani, M.A., Dr. Bakhrudin All Habsy, M.Pd.,
Dr. Rivo Nugroho, S.Pd., M.Pd., dan Tri ‘Ulya Qodriyati, S.Pd., M.Pd. Kegiatan
berlangsung hangat dan interaktif dengan melibatkan para tokoh masyarakat,
pelaku usaha rumahan, perangkat desa, serta perwakilan pemuda dan ibu PKK.
Dalam
pelaksanaannya, kegiatan ini mengusung pendekatan konseling kelompok untuk
mengidentifikasi dan merefleksikan persoalan sosial yang muncul di tengah
masyarakat desa industri. Peserta diajak berdialog secara terbuka mengenai
tantangan kohesi sosial di era modern, serta merumuskan langkah-langkah
kolaboratif untuk memperkuat solidaritas warga.
Dr. Rofik Jalal
Rosyanafi, M.Pd. menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya
perguruan tinggi untuk menghadirkan solusi nyata di masyarakat.
“Kohesi sosial
tidak hanya dibangun melalui peraturan, tapi lewat rasa saling percaya dan
komunikasi yang sehat antarwarga. Melalui konseling kelompok, warga bisa
menemukan kembali semangat gotong royong dan kebersamaan,” ujarnya.
Sebagai bentuk
apresiasi terhadap dukungan pemerintah desa dalam kegiatan ini, Fakultas Ilmu Pendidikan Unesa memberikan
Piagam Penghargaan kepada H. Zainul Arifin, SE., M.H., selaku Kepala Desa Ketapanrame. Penyerahan piagam dilakukan langsung
di sela-sela kegiatan oleh tim Unesa.
Suasana kegiatan
berlangsung penuh keakraban dan reflektif. Para peserta mengaku mendapatkan
banyak manfaat, terutama dalam memahami pentingnya menjaga harmoni sosial di
tengah dinamika ekonomi desa industri.
“Kami merasa
kegiatan seperti ini membuka ruang untuk saling bicara dan memahami satu sama lain. Rasane adem, nggak kaku,
tapi maknane jero,” tutur salah satu peserta.
Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi dan pembacaan komitmen sosial bersama yang diharapkan dapat menjadi panduan moral bagi masyarakat Desa Ketapanrame dalam membangun kehidupan sosial yang lebih harmonis dan produktif.