Cara Efektif Mengintegrasikan Teori dan Praktik dalam Penelitian Pendidikan
Surabaya — Hubungan antara teori dan praktik sering kali menjadi tantangan utama dalam penelitian pendidikan. Teori memberikan kerangka berpikir yang menjelaskan “mengapa” dan “bagaimana” suatu fenomena terjadi, sedangkan praktik menunjukkan “apa” dan “sejauh mana” hal itu bekerja di lapangan. Integrasi keduanya menuntut kemampuan analitis, reflektif, dan kreatif agar penelitian tidak hanya bernilai akademis, tetapi juga relevan bagi dunia pendidikan nyata.
Langkah pertama adalah memahami
fungsi teori dalam penelitian. Teori bukan sekadar kumpulan definisi,
tetapi lensa konseptual yang membantu peneliti membaca fenomena. Misalnya,
teori konstruktivisme memberi landasan bahwa belajar adalah proses membangun
makna melalui interaksi dan pengalaman. Ketika teori ini diterapkan dalam
praktik, peneliti harus mampu menelusuri bagaimana proses konstruksi makna itu
benar-benar terjadi di ruang kelas, bukan hanya menulisnya dalam bab kajian
teori.
Langkah kedua, rumuskan
pertanyaan penelitian yang menjembatani teori dan praktik. Pertanyaan
seperti “Bagaimana prinsip konstruktivisme terwujud dalam strategi
pembelajaran reflektif di sekolah dasar?” jauh lebih produktif dibanding
pertanyaan yang hanya mendeskripsikan fenomena. Pertanyaan semacam ini menuntun
peneliti untuk menguji sejauh mana teori bekerja di lapangan, dan pada saat
yang sama, menemukan kemungkinan modifikasi teoretik.
Langkah ketiga, gunakan desain
penelitian yang memungkinkan dialog antara teori dan data. Pendekatan
seperti design-based research (DBR), action research, atau mixed
methods dapat menjadi pilihan karena memberi ruang bagi iterasi dan
refleksi. Desain seperti ini membantu peneliti menguji teori, memperbaikinya,
dan mengembangkan praktik baru berdasarkan temuan empiris.
Langkah keempat, gunakan
kerangka analisis yang konsisten dengan teori yang diadopsi. Kesalahan umum
yang sering muncul adalah menggunakan teori tertentu di bagian awal, tetapi
menganalisis data dengan perspektif yang berbeda. Dalam penelitian yang
berorientasi deep learning, konsistensi teoritis adalah kunci agar
interpretasi hasil tetap bermakna dan terarah.
Langkah kelima, refleksikan
hasil penelitian dalam konteks praksis pendidikan. Peneliti perlu menjawab
pertanyaan penting: apakah teori membantu memperjelas praktik, dan apakah
praktik memberi kontribusi baru terhadap teori? Proses refleksi ini sejalan
dengan pandangan Freire (1970) tentang praxis — perpaduan antara aksi
dan refleksi yang menghasilkan transformasi.
Integrasi teori dan praktik bukan
hanya kemampuan teknis, tetapi juga bentuk kedewasaan berpikir ilmiah.
Mahasiswa doktoral dituntut untuk menjadi “penerjemah makna” antara dunia
konsep dan realitas pendidikan.
Program S3 Ilmu Pendidikan UNESA
menempatkan integrasi teori dan praktik sebagai fondasi utama dalam setiap
penelitian disertasi. Melalui riset yang reflektif dan berorientasi makna,
mahasiswa didorong untuk menghasilkan teori yang hidup — teori yang tumbuh dari
praktik, dan praktik yang disempurnakan oleh teori.
Tim Redaksi S3 Ilmu Pendidikan
UNESA