Dari Permukaan Menuju Esensi: Tantangan Mewujudkan Deep Learning di Era Informasi Instan
Surabaya — Kemudahan akses informasi di era digital membawa paradoks baru dalam dunia pendidikan. Di satu sisi, pengetahuan tersedia dalam jumlah tak terbatas; di sisi lain, kedalaman berpikir manusia justru terancam oleh budaya instan. Dalam situasi ini, deep learning atau pembelajaran mendalam menjadi penyeimbang penting yang mengembalikan hakikat belajar sebagai proses memahami, bukan sekadar mencari jawaban cepat.
Pembelajaran mendalam mengajak
mahasiswa untuk menggali esensi pengetahuan, bukan berhenti pada lapisan
permukaan. Biggs (1999) menyebut bahwa deep learning lahir dari niat
belajar yang berorientasi pada makna, bukan hasil. Mahasiswa yang belajar
secara mendalam tidak puas dengan penjelasan dangkal; mereka menelusuri
sebab-akibat, menelaah konteks, dan menantang diri untuk melihat hubungan antar
gagasan.
Program Doktor Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menempatkan paradigma ini di pusat
pengembangan akademik. Mahasiswa doktor diajak untuk meninggalkan pola belajar
reaktif dan beralih menuju pendekatan reflektif. Setiap diskusi, seminar, dan
proses bimbingan disertasi diarahkan agar mahasiswa menelusuri mengapa
dan bagaimana suatu teori bekerja, bukan sekadar mengutip atau
menjelaskan apa adanya.
Budaya instan sering kali membuat
mahasiswa terjebak dalam logika “cepat selesai”, padahal riset pendidikan
menuntut ketekunan berpikir. Di tengah kemajuan kecerdasan buatan, copy-paste
thinking menjadi godaan baru yang mengikis proses berpikir kritis. Deep
learning menjadi benteng etis sekaligus intelektual terhadap fenomena ini —
mendorong mahasiswa untuk tetap berproses, merenung, dan menemukan makna
pribadi dalam setiap pencarian ilmiah.
Teori constructivism yang
dipelopori oleh Piaget dan Vygotsky menegaskan bahwa belajar yang bermakna
selalu melibatkan konstruksi aktif oleh individu. Pengetahuan tidak ditransfer,
tetapi dibangun melalui pengalaman, refleksi, dan interaksi sosial. Prinsip ini
menjadi dasar kuat bagi praktik pembelajaran mendalam yang kini terus
dikembangkan di lingkungan S3 Ilmu Pendidikan UNESA.
Pendidikan tinggi memiliki
tanggung jawab besar menjaga kualitas berpikir di tengah derasnya informasi.
Pembelajaran mendalam tidak hanya menuntun mahasiswa memahami teori, tetapi
juga mengasah kemampuan menilai kebenaran, membedakan makna, dan menumbuhkan
kebijaksanaan ilmiah.
Program S3 Ilmu Pendidikan UNESA
berkomitmen menjaga semangat itu—mendorong setiap mahasiswa untuk belajar bukan
di permukaan, tetapi hingga ke inti pengetahuan. Di sinilah pendidikan
menemukan jiwanya kembali: memahami, merenungi, dan memberi makna bagi
kehidupan.
Tim Redaksi S3 Ilmu Pendidikan
UNESA