Dialog sebagai Metode Berpikir: Menghidupkan Kelas Doktoral yang Reflektif
Surabaya — Pendidikan pada tingkat doktoral tidak lagi sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan proses pembentukan cara berpikir. Dalam konteks deep learning, dialog menjadi sarana utama untuk mencapai kedalaman tersebut. Melalui dialog, mahasiswa tidak hanya mendengar dan mencatat, tetapi membangun, menantang, dan merekonstruksi pemahaman bersama.
Paulo Freire dalam Pedagogy of
the Oppressed menegaskan bahwa dialog adalah bentuk tertinggi dari tindakan
kemanusiaan dalam pendidikan. Melalui dialog, manusia saling menegaskan
keberadaannya sebagai subjek yang berpikir dan belajar. Freire menolak
pendidikan yang bersifat “banking system” — di mana guru menabungkan
pengetahuan ke dalam diri murid. Sebaliknya, ia menawarkan pendidikan dialogis
yang menempatkan guru dan siswa sebagai mitra dalam pencarian makna.
Pendekatan ini sangat relevan
bagi kelas doktoral. Di ruang S3 Ilmu Pendidikan UNESA, dialog bukan sekadar
sesi tanya jawab, melainkan wadah kolaborasi intelektual. Mahasiswa dan dosen
bertemu dalam kedudukan yang setara sebagai peneliti dan pemikir. Setiap
gagasan diuji, diperdebatkan, dan dikontekstualisasi dalam kerangka teoritis
yang kuat. Dari proses inilah lahir pemahaman yang tidak hanya luas, tetapi
juga dalam.
Dialog menuntut kesiapan mental
dan kejujuran intelektual. Ia menolak sikap defensif dan mengajarkan
keterbukaan terhadap kritik. Dalam kelas yang reflektif, perbedaan pandangan
tidak dianggap ancaman, tetapi peluang untuk memperluas cakrawala berpikir. Ketika
mahasiswa berani mempertanyakan teori besar atau menafsirkan ulang konsep
klasik, maka saat itulah deep learning terjadi.
Dalam konteks pendidikan
doktoral, dialog juga menjadi alat penguji orisinalitas gagasan. Diskusi
terbuka membantu mahasiswa mengenali keunikan pendekatan dan kontribusi ilmiah
yang sedang ia kembangkan. Melalui dinamika intelektual ini, setiap individu belajar
bahwa berpikir bukan kegiatan soliter, melainkan hasil interaksi sosial yang
bermakna.
UNESA menumbuhkan tradisi dialog
reflektif ini dalam berbagai forum akademik, mulai dari kuliah teori, seminar
penelitian, hingga colloquium disertasi. Tradisi ini menjadikan kampus
bukan sekadar tempat berbagi pengetahuan, tetapi juga tempat menumbuhkan
kesadaran ilmiah yang mendalam.
Di tengah dunia yang semakin
cepat dan instan, dialog mengajarkan perlambatan — sebuah jeda untuk berpikir
dan mendengarkan. Melalui dialog, kelas doktoral berubah menjadi ruang
pencarian makna yang hidup. Ia bukan hanya sarana akademik, melainkan laboratorium
kemanusiaan tempat ilmu dan nilai bertemu.
Tim Redaksi S3 Ilmu Pendidikan
UNESA