Langkah-Langkah Mendesain Instrumen Penelitian Berbasis Pembelajaran Mendalam
Surabaya — Instrumen penelitian merupakan jantung dari proses pengumpulan data. Dalam konteks pendidikan, instrumen tidak hanya menjadi alat ukur, tetapi juga representasi dari cara peneliti memahami proses belajar manusia. Mendesain instrumen berbasis pembelajaran mendalam (deep learning) menuntut peneliti untuk berpikir melampaui sekadar pengukuran kognitif — yakni menilai sejauh mana peserta didik mampu mengaitkan, merefleksikan, dan mentransfer pengetahuan ke konteks baru.
Langkah pertama dalam mendesain
instrumen adalah menetapkan konstruk teoritik secara jelas. Konstruk
harus diidentifikasi melalui kajian literatur yang kuat agar setiap indikator
yang muncul memiliki dasar ilmiah. Misalnya, dalam pembelajaran mendalam,
konstruk dapat mencakup dimensi pemahaman konseptual, transfer makna, refleksi
diri, dan penerapan pada situasi autentik. Menurut Biggs dan Tang (2011), deep
learning mengutamakan keterkaitan makna antar konsep dan kemampuan berpikir
relasional, bukan hafalan permukaan.
Langkah kedua adalah menurunkan
konstruk menjadi indikator operasional. Indikator inilah yang akan menjadi
panduan dalam merumuskan butir-butir instrumen. Misalnya, indikator “kemampuan
transfer makna” dapat diterjemahkan menjadi butir pertanyaan seperti “Seberapa
sering Anda menghubungkan konsep yang dipelajari dengan pengalaman di luar
kelas?”. Pada tahap ini, peneliti perlu menyeimbangkan antara ketajaman
konseptual dan kejelasan bahasa agar instrumen mudah dipahami oleh responden.
Langkah ketiga adalah menentukan
bentuk instrumen yang sesuai. Untuk penelitian berbasis pembelajaran
mendalam, bentuk instrumen tidak harus selalu berupa angket skala Likert.
Wawancara reflektif, studi portofolio, dan rubrik penilaian autentik juga bisa
menjadi alternatif yang menggali proses berpikir dan pengalaman belajar peserta
didik secara lebih holistik.
Langkah keempat, lakukan validasi
ahli (expert judgment). Validasi tidak hanya menilai kelayakan butir,
tetapi juga kesesuaian antara konstruk teoretik dan konteks pembelajaran.
Validasi berbasis deep learning sebaiknya melibatkan pakar yang memahami
filosofi pembelajaran reflektif dan mampu menilai kualitas butir dari aspek
makna, bukan sekadar format.
Langkah kelima, lakukan uji
coba dan analisis empirik. Pengujian instrumen dapat menggunakan pendekatan
statistik (misalnya analisis faktor eksploratori) atau pendekatan kualitatif
melalui analisis tematik hasil wawancara. Tujuan akhirnya adalah memastikan
bahwa instrumen benar-benar mengukur kedalaman pemahaman, bukan sekadar
permukaan pengetahuan.
Langkah terakhir, refleksikan
kembali keterpaduan antara teori, konteks, dan instrumen. Instrumen yang
baik tidak hanya valid dan reliabel, tetapi juga bermakna. Ia harus mampu
menampung kompleksitas manusia dalam belajar, sesuai dengan semangat deep
learning yang menekankan koneksi, refleksi, dan kebermaknaan.
Program S3 Ilmu Pendidikan UNESA
terus mengembangkan model penelitian yang berpihak pada kedalaman makna.
Melalui desain instrumen yang berbasis deep learning, peneliti
diharapkan dapat menghasilkan data yang tidak hanya akurat secara ilmiah,
tetapi juga bernilai bagi pengembangan praktik pendidikan yang lebih manusiawi
dan kontekstual.
Tim Redaksi S3 Ilmu Pendidikan
UNESA