Langkah Praktis Melakukan Validasi dan Reliabilitas Instrumen Pendidikan
Surabaya — Keakuratan data dalam penelitian pendidikan sangat bergantung pada kualitas instrumen yang digunakan. Instrumen yang valid dan reliabel tidak hanya memastikan hasil penelitian dapat dipercaya, tetapi juga menjadi dasar bagi kesimpulan ilmiah yang bermakna. Dalam konteks penelitian doktoral, validasi dan reliabilitas bukan sekadar prosedur teknis, melainkan representasi dari kedalaman berpikir metodologis peneliti.
Langkah pertama adalah menetapkan
konstruk teoretik yang jelas. Validitas dimulai dari sejauh mana instrumen
mampu mengukur konsep yang dimaksud. Peneliti perlu merumuskan definisi
operasional setiap variabel dengan merujuk pada teori yang kuat. Misalnya, jika
meneliti literasi numerasi berbasis pembelajaran mendalam, maka setiap
indikator harus mengacu pada dimensi kognitif, afektif, dan reflektif yang
melekat dalam konsep deep learning.
Langkah kedua, lakukan
validasi isi (content validity) dengan melibatkan ahli di bidang yang
relevan. Peneliti dapat menggunakan pendekatan expert judgment dengan
menilai kesesuaian butir instrumen terhadap indikator konstruk. Indeks
validitas seperti Aiken’s V atau CVI (Content Validity Index)
sering digunakan untuk menilai sejauh mana para ahli memiliki kesepakatan
terhadap relevansi butir.
Langkah ketiga, uji validitas
empiris melalui analisis butir. Dalam instrumen skala Likert, misalnya,
peneliti dapat menghitung korelasi antara skor setiap butir dengan skor total
(corrected item-total correlation). Butir yang tidak memenuhi batas minimal
(biasanya r > 0,30) sebaiknya direvisi atau dihapus. Analisis ini membantu
memastikan setiap butir benar-benar mewakili konstruk yang diukur.
Langkah keempat, uji
reliabilitas untuk memastikan konsistensi hasil pengukuran. Koefisien
Cronbach’s Alpha merupakan ukuran yang umum digunakan untuk skala Likert,
dengan nilai di atas 0,70 dianggap cukup reliabel. Namun, reliabilitas bukan
hanya soal angka, melainkan juga kestabilan konsep. Dalam penelitian berbasis deep
learning, reliabilitas konseptual menuntut konsistensi logika berpikir
dalam setiap indikator dan dimensi konstruk.
Langkah kelima, uji ulang
instrumen melalui uji coba lapangan terbatas (pilot test). Tahap ini
penting untuk menilai apakah responden memahami setiap butir dengan jelas.
Revisi berdasarkan masukan lapangan sering kali meningkatkan validitas dan
kepraktisan instrumen secara signifikan.
Dalam konteks penelitian
pendidikan modern, validitas juga mencakup validitas ekologi, yaitu
sejauh mana instrumen sesuai dengan konteks nyata pembelajaran. Pendekatan ini
menegaskan bahwa pengukuran tidak boleh terlepas dari situasi belajar, budaya
sekolah, dan karakter peserta didik.
Program S3 Ilmu Pendidikan UNESA
mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menggunakan uji statistik sebagai
formalitas, tetapi juga memahami makna konseptual di balik validitas dan
reliabilitas. Instrumen yang baik adalah hasil dari dialog antara teori, data,
dan refleksi ilmiah.
Tim Redaksi S3 Ilmu Pendidikan
UNESA