Membangun Argumentasi Ilmiah yang Kuat dalam Bab Pembahasan Disertasi
Surabaya — Bab pembahasan sering menjadi bagian paling menentukan dalam sebuah disertasi. Di sinilah kemampuan berpikir kritis dan analisis seorang peneliti benar-benar diuji. Pembahasan bukan sekadar menafsirkan data, melainkan mengonstruksi argumentasi ilmiah yang logis, berbasis teori, dan mampu menjelaskan makna temuan dalam konteks pendidikan yang lebih luas.
Argumentasi ilmiah yang kuat
diawali dari pemahaman mendalam terhadap data. Peneliti perlu memastikan
bahwa setiap interpretasi didasarkan pada bukti empiris yang valid. Fakta di
lapangan menjadi pijakan awal untuk menelusuri “mengapa” sesuatu terjadi, bukan
sekadar “apa” yang terjadi. Di titik inilah keterampilan analisis tematik,
kategorisasi, atau triangulasi memainkan peran penting dalam menjaga keabsahan
data.
Langkah berikutnya adalah menautkan
temuan dengan teori dan penelitian terdahulu. Argumentasi ilmiah tidak
berdiri sendiri, melainkan berakar pada percakapan akademik yang sudah ada.
Ketika peneliti mengaitkan hasil riset dengan teori tertentu, ia sedang
menegosiasikan posisi intelektualnya. Misalnya, jika penelitian menunjukkan bahwa
refleksi diri siswa memperkuat pemahaman konseptual, maka peneliti dapat
mengaitkannya dengan prinsip metacognitive regulation dalam teori deep
learning. Hubungan ini membuat pembahasan tidak hanya deskriptif, tetapi
juga konseptual.
Langkah ketiga, susun argumen
secara sistematis dan berlapis. Argumentasi ilmiah yang efektif tidak
langsung menuju kesimpulan besar, tetapi bergerak melalui tahapan logis: temuan
→ interpretasi → pembanding teori → sintesis makna. Struktur semacam ini
memperlihatkan kedewasaan berpikir dan memudahkan pembaca mengikuti alur nalar
peneliti.
Langkah keempat, hindari klaim
yang tidak didukung bukti atau teori. Dalam tradisi akademik, kekuatan
argumen bukan diukur dari banyaknya pendapat, tetapi dari koherensi antara
data, logika, dan rujukan ilmiah. Peneliti perlu menjaga keseimbangan antara
sikap yakin terhadap temuannya dan keterbukaan terhadap interpretasi lain.
Langkah terakhir, tutup
pembahasan dengan refleksi konseptual. Refleksi ini dapat berupa pandangan
baru terhadap teori, rekomendasi bagi praktik pendidikan, atau kemungkinan arah
penelitian lanjutan. Argumen yang kuat selalu berakhir dengan kontribusi, bukan
sekadar ringkasan.
Menurut Toulmin (1958), argumen
yang valid terdiri dari klaim, data, dan warrant (penjelas hubungan
antara keduanya). Prinsip ini relevan diterapkan dalam pembahasan disertasi
untuk memastikan bahwa setiap pernyataan berdiri di atas dasar empiris dan
logis yang jelas.
Program S3 Ilmu Pendidikan UNESA
mendorong setiap mahasiswa untuk membangun gaya argumentatif yang reflektif,
dialogis, dan berbasis makna. Melalui proses pembimbingan dan kolokium,
mahasiswa diarahkan untuk tidak hanya menjawab pertanyaan penelitian, tetapi
juga memperluas cakrawala teori dan praksis pendidikan.
Tim Redaksi S3 Ilmu Pendidikan
UNESA