Membangun Budaya Akademik yang Reflektif: Jalan Panjang Menuju Deep Learning
Surabaya — Dunia akademik tidak hanya menuntut kemampuan berpikir kritis, tetapi juga kemampuan merefleksi proses berpikir itu sendiri. Dalam konteks pembelajaran tingkat doktoral, refleksi menjadi jantung dari deep learning — pembelajaran yang mengubah cara pandang, memperdalam pemahaman, dan menumbuhkan kesadaran diri sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Refleksi bukan sekadar kegiatan
menulis jurnal atau mengisi lembar evaluasi diri. Ia adalah proses metakognitif
yang menghubungkan pengalaman belajar, teori, dan makna personal yang diperoleh
dari keduanya. John Dewey, tokoh pendidikan progresif, menyebut refleksi
sebagai “pemikiran aktif, gigih, dan hati-hati tentang keyakinan atau bentuk
pengetahuan, disertai pertimbangan dasar yang mendukungnya.” Artinya, refleksi
adalah proses berpikir tingkat tinggi yang membawa seseorang dari sekadar
mengetahui menjadi memahami.
Budaya akademik yang reflektif
tidak tumbuh dari rutinitas administratif, melainkan dari ekosistem yang
memberi ruang bagi dialog, kritik, dan introspeksi. Di lingkungan Program
Doktor Ilmu Pendidikan UNESA, nilai reflektif ini diwujudkan dalam berbagai bentuk
— mulai dari diskusi terbuka antar mahasiswa, seminar pemikiran, hingga
bimbingan disertasi yang menekankan pemaknaan atas setiap langkah penelitian.
Pendekatan reflektif menjadikan
mahasiswa bukan hanya penerima teori, tetapi penemu makna. Dalam proses ini,
teori-teori pendidikan tidak lagi dipandang sebagai dogma, melainkan sebagai
lensa untuk menafsirkan realitas pendidikan secara lebih luas dan kontekstual.
Setiap mahasiswa diajak untuk mengajukan pertanyaan kritis: Apa makna teori
ini bagi konteks pendidikan Indonesia? Apa implikasi praktisnya terhadap
kebijakan dan praktik belajar?
Membangun budaya reflektif
berarti menumbuhkan kebiasaan bertanya dan mendengarkan, dua hal yang sering
terabaikan dalam tradisi akademik yang sibuk mengejar publikasi. Di era deep
learning, keberhasilan tidak lagi diukur dari jumlah tulisan yang
dihasilkan, tetapi dari kedalaman pemikiran yang terkandung di dalamnya.
Budaya reflektif juga berperan
sebagai pengimbang di tengah derasnya arus informasi digital. Ketika kecerdasan
buatan mampu menghasilkan teks dengan cepat, kemampuan refleksi manusialah yang
menjadi pembeda utama. Hanya manusia yang mampu menafsirkan, memberi makna, dan
menyusun nilai dari pengetahuan yang diperoleh.
Melalui semangat reflektif
inilah, Program S3 Ilmu Pendidikan UNESA berupaya melahirkan ilmuwan yang tidak
hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak secara epistemologis.
Refleksi menjadi kunci untuk menjaga agar proses belajar tetap berakar pada
kesadaran, bukan sekadar pada hasil.
Tim Redaksi S3 Ilmu Pendidikan
UNESA