Menulis sebagai Proses Berpikir: Literasi Akademik dalam Era Deep Learning
Surabaya — Menulis bukan sekadar keterampilan menuangkan ide ke dalam kata, melainkan proses berpikir yang menuntun seseorang memahami dirinya dan dunianya. Dalam konteks pendidikan tinggi, terutama di jenjang doktor, menulis adalah sarana untuk menstrukturkan pemikiran, membangun argumentasi, dan memproduksi pengetahuan baru. Menulis berarti berpikir secara mendalam — inilah esensi deep learning.
Lev Vygotsky pernah mengatakan
bahwa bahasa adalah alat berpikir yang membentuk kesadaran. Melalui tulisan,
gagasan yang semula abstrak menjadi konkret, dapat ditinjau ulang, dan
dikembangkan secara reflektif. Dalam proses ini, mahasiswa tidak hanya belajar
“tentang” teori, tetapi juga belajar “dari” teori — mereka menggunakannya untuk
memahami konteks empiris dan membangun makna baru.
Program S3 Ilmu Pendidikan UNESA
memandang literasi akademik sebagai fondasi pembelajaran mendalam. Kemampuan
menulis ilmiah bukan sekadar teknis sitasi dan tata bahasa, melainkan
keterampilan epistemik: kemampuan menyusun alur berpikir yang logis, argumentatif,
dan orisinal. Setiap tulisan, baik artikel jurnal maupun disertasi, diharapkan
menjadi ruang dialog antara teori dan realitas pendidikan Indonesia.
Menulis secara reflektif
mendorong mahasiswa untuk memeriksa asumsi mereka sendiri. Setiap kalimat
menjadi cermin bagi pemikiran yang sedang tumbuh. Dalam proses revisi, mereka
belajar bukan hanya memperbaiki struktur, tetapi juga memperdalam logika dan kejelasan
makna. Inilah titik di mana menulis berubah menjadi proses metakognitif —
berpikir tentang cara berpikir.
Di era digital, tantangan
literasi semakin kompleks. Teknologi berbasis kecerdasan buatan dapat membantu
menghasilkan teks, tetapi hanya manusia yang dapat menciptakan makna. Tulisan
yang lahir dari refleksi pribadi dan pemahaman mendalam tetap memiliki daya
hidup yang tidak bisa digantikan algoritma.
UNESA menegaskan bahwa literasi
akademik dalam era deep learning bukan sekadar keterampilan komunikasi
ilmiah, melainkan jalan menuju kesadaran ilmiah. Menulis mengajarkan kesabaran
berpikir, kedisiplinan logika, dan kejujuran intelektual — tiga kualitas yang
menjadi jiwa dari setiap ilmuwan sejati.
Dalam ruang akademik yang
reflektif, tulisan bukan hasil akhir, tetapi proses pembentukan diri. Setiap
kata yang ditulis dengan kesadaran menjadi langkah kecil menuju kebijaksanaan.
Itulah sebabnya, bagi mahasiswa doktor, menulis bukan kewajiban administratif,
melainkan perjalanan intelektual menuju pemahaman yang lebih dalam tentang ilmu
dan kemanusiaan.
Tim Redaksi S3 Ilmu Pendidikan
UNESA