Panduan Menerapkan Analisis Data Kualitatif yang Reflektif dan Terstruktur
Surabaya — Analisis data kualitatif adalah proses menafsirkan makna dari pengalaman, narasi, dan fenomena yang muncul di lapangan. Dalam penelitian pendidikan, proses ini tidak berhenti pada mengelompokkan data, tetapi menuntut peneliti untuk memahami realitas secara reflektif dan sistematis. Analisis yang baik menampakkan bukan hanya “apa yang dikatakan data,” tetapi juga “mengapa hal itu bermakna” dalam konteks pembelajaran dan kemanusiaan.
Langkah pertama dalam analisis
kualitatif adalah organisasi data. Peneliti perlu menyiapkan seluruh
hasil wawancara, observasi, dan dokumen lapangan dalam format yang rapi — baik
dalam bentuk transkrip teks maupun catatan lapangan digital. Proses ini
membantu menjaga keutuhan konteks dan memudahkan penelusuran makna. Miles dan
Huberman (1994) menekankan bahwa reduksi data bukan berarti membuang informasi,
melainkan menyaring esensi yang relevan dengan fokus penelitian.
Langkah kedua, lakukan pemberian
kode (coding). Coding adalah proses mengidentifikasi potongan data yang
bermakna dan memberi label yang mewakili ide utama. Peneliti dapat menggunakan open
coding untuk tahap awal, lalu melanjutkan dengan axial coding untuk
menemukan hubungan antar tema. Tahapan ini mirip dengan proses deep learning,
di mana makna dibangun melalui keterkaitan dan refleksi berulang.
Langkah ketiga, membangun
kategori dan tema utama. Dari hasil coding, peneliti perlu menyusun
tema-tema yang menggambarkan pola berpikir, perasaan, atau tindakan partisipan.
Misalnya, dari penelitian tentang pembelajaran mendalam, tema yang muncul bisa
berupa “refleksi diri guru,” “strategi berpikir kritis siswa,” atau “perubahan
makna belajar.” Tema-tema ini menjadi dasar untuk menafsirkan fenomena secara
lebih filosofis.
Langkah keempat, menafsirkan
makna dan menarik kesimpulan reflektif. Analisis kualitatif bukan sekadar
menjelaskan apa yang terjadi, tetapi memahami mengapa hal itu terjadi.
Peneliti perlu menautkan temuannya dengan teori, konteks sosial, dan
nilai-nilai kemanusiaan. Dalam tradisi hermeneutik, proses ini disebut sebagai lingkaran
pemahaman — gerak bolak-balik antara data dan makna hingga tercapai
pemahaman yang utuh.
Langkah kelima, menjaga
kredibilitas dan keabsahan temuan. Teknik seperti member checking, triangulasi,
dan audit trail membantu memastikan interpretasi peneliti tidak bias.
Namun, keabsahan dalam penelitian berbasis deep learning tidak hanya
ditentukan oleh prosedur teknis, melainkan juga oleh kedalaman refleksi
peneliti terhadap posisi dirinya dalam proses riset.
Analisis data kualitatif yang
reflektif dan terstruktur memerlukan keseimbangan antara ketelitian ilmiah dan
kepekaan makna. Seorang peneliti doktoral diharapkan mampu melihat data bukan
hanya sebagai informasi, tetapi sebagai “cerita” yang membawa pesan kemanusiaan
dan pendidikan.
Program S3 Ilmu Pendidikan UNESA
terus menumbuhkan tradisi riset yang menekankan pemaknaan mendalam. Melalui
analisis data yang reflektif, penelitian tidak hanya menghasilkan temuan
akademik, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang bagaimana manusia belajar,
berubah, dan bertumbuh.
Tim Redaksi S3 Ilmu Pendidikan
UNESA