Pembelajaran Adaptif dan Kecerdasan Buatan dalam Perspektif Pendidikan Mendalam
Surabaya — Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap pendidikan modern. Sistem pembelajaran adaptif yang digerakkan oleh AI mampu menyesuaikan materi, kecepatan, dan tingkat kesulitan berdasarkan respons peserta didik. Namun, di balik kecanggihannya, muncul pertanyaan mendasar: apakah teknologi ini benar-benar mendukung deep learning — atau justru menggantikannya dengan otomatisasi kognitif?
Konsep deep learning dalam
pendidikan tidak hanya menekankan penguasaan konten, tetapi juga pemahaman,
refleksi, dan transformasi berpikir. Jerome Bruner menekankan pentingnya structure
of knowledge — kemampuan memahami hubungan antar konsep secara menyeluruh,
bukan sekadar mengingat fakta terpisah. Dalam konteks ini, pembelajaran adaptif
yang baik harus membantu peserta didik menavigasi struktur pengetahuan tersebut
secara personal dan bermakna.
Sistem AI adaptif idealnya
berperan sebagai fasilitator berpikir, bukan pengganti proses berpikir itu
sendiri. Ketika algoritma hanya berfungsi memberi jawaban cepat, peserta didik
kehilangan ruang untuk refleksi dan eksplorasi. Namun, jika teknologi digunakan
untuk memunculkan pertanyaan baru, memberi umpan balik reflektif, dan
menstimulasi rasa ingin tahu, maka pembelajaran digital justru memperkuat
kedalaman belajar.
Program S3 Ilmu Pendidikan UNESA
menempatkan isu ini sebagai bagian penting dalam diskusi tentang masa depan
pendidikan. Mahasiswa doktor didorong untuk menelaah bukan hanya bagaimana AI
bekerja, tetapi juga bagaimana ia memengaruhi epistemologi belajar — cara
manusia membangun pengetahuan dan makna. Dalam penelitian dan seminar, topik
seperti human-centered AI dan ethical adaptive learning menjadi
perbincangan kritis.
Pendidikan mendalam menuntut
keseimbangan antara teknologi dan kesadaran manusia. AI dapat memetakan gaya
belajar, tetapi hanya refleksi manusia yang dapat menafsirkan maknanya. Di
sinilah letak pentingnya peran pendidik sebagai pengarah nilai dan penuntun
berpikir kritis di tengah arus digitalisasi.
Integrasi AI dalam pembelajaran
adaptif bukan sekadar soal efisiensi, melainkan soal arah: apakah ia
mengantarkan peserta didik pada pemahaman yang lebih dalam, atau sekadar
kenyamanan belajar yang instan. Pendidikan mendalam menolak jalan pintas; ia
tumbuh melalui proses berpikir, kesalahan, dan refleksi yang sadar.
UNESA memandang masa depan
pendidikan bukan sebagai kompetisi antara manusia dan mesin, melainkan
kolaborasi yang menumbuhkan kebijaksanaan baru. Di tangan para peneliti dan
pendidik reflektif, teknologi tidak lagi menjadi ancaman, melainkan jembatan
menuju pembelajaran yang lebih bermakna dan mendalam.
Tim Redaksi S3 Ilmu Pendidikan
UNESA