Pendidikan Humanistik sebagai Fondasi Inovasi Akademik
Surabaya — Di tengah derasnya inovasi teknologi dan kompetisi global, pendidikan sering terjebak dalam orientasi hasil dan produktivitas. Namun, di balik segala kemajuan itu, ada satu hal yang tidak boleh hilang: kemanusiaan. Pendidikan humanistik hadir sebagai pengingat bahwa inti dari proses belajar adalah manusia itu sendiri — dengan potensi, emosi, dan makna yang ingin ia temukan.
Paradigma pendidikan humanistik
menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran. Carl
Rogers, tokoh psikologi humanistik, menekankan pentingnya learner-centered
education, di mana guru atau dosen berperan sebagai fasilitator yang
menciptakan iklim empatik dan mendukung aktualisasi diri. Dalam konteks
pendidikan tinggi, pendekatan ini membuka ruang bagi mahasiswa untuk menemukan
identitas ilmiahnya melalui pengalaman belajar yang reflektif dan bermakna.
Program Doktor Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menempatkan nilai humanistik sebagai
fondasi dalam setiap pengembangan akademik. Mahasiswa doktor didorong untuk
melihat penelitian bukan hanya sebagai kegiatan ilmiah, tetapi juga sebagai
praktik kemanusiaan—upaya memahami manusia dalam konteks sosial, budaya, dan
spiritualnya.
Keterkaitan antara humanisme dan
inovasi akademik tampak jelas ketika kreativitas intelektual bertemu dengan
kepedulian sosial. Inovasi sejati lahir dari keinginan untuk memperbaiki
kehidupan manusia, bukan sekadar menciptakan sistem baru. Oleh karena itu,
pendidikan humanistik menjadi jembatan antara pengetahuan dan nilai, antara
kecerdasan dan kebijaksanaan.
Dalam konteks pembelajaran
mendalam, pendekatan humanistik memperkuat dimensi afektif dan reflektif
mahasiswa. Proses belajar tidak hanya berorientasi pada capaian akademik,
tetapi juga pada pemahaman diri, makna belajar, dan kontribusi terhadap
kemaslahatan sosial. Mahasiswa yang belajar dengan kesadaran humanistik akan
lebih mampu mengintegrasikan pengetahuan dengan empati dan tanggung jawab
moral.
Pendidikan doktoral di UNESA
menegaskan bahwa kemajuan akademik tidak boleh mengorbankan nilai kemanusiaan.
Dalam setiap riset, teori, dan inovasi, harus ada kesadaran bahwa ilmu
pengetahuan adalah alat untuk menumbuhkan martabat manusia. Dari ruang-ruang
seminar hingga laboratorium riset, semangat humanistik menjadi landasan utama
agar pendidikan tetap berjiwa dan berarah pada kebaikan bersama.
Tim Redaksi S3 Ilmu Pendidikan UNESA