Taksonomi SOLO dan Peta Kedalaman Belajar Mahasiswa Doktor
Surabaya — Setiap proses belajar memiliki tingkat kedalaman yang berbeda. Ada yang berhenti di tataran mengingat, ada pula yang mencapai tahap analisis, refleksi, dan rekonstruksi makna. Untuk memahami variasi tersebut, Biggs dan Collis memperkenalkan Structure of Observed Learning Outcomes (SOLO Taxonomy), sebuah kerangka yang membantu pendidik dan peneliti memetakan kualitas pemahaman peserta didik.
Taksonomi SOLO menggambarkan
perjalanan belajar dari tingkat permukaan menuju kedalaman konseptual. Lima
tingkatannya dimulai dari prestructural (tidak relevan), unistructural
(satu aspek dipahami), multistructural (beberapa aspek terpisah), relational
(hubungan antar konsep terbentuk), hingga extended abstract (pemahaman
dikembangkan ke konteks baru). Dalam konteks mahasiswa doktor, tujuan akhirnya
adalah mencapai tahap extended abstract — kemampuan berpikir konseptual,
reflektif, dan kreatif dalam menghasilkan pengetahuan baru.
Program Doktor Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menjadikan taksonomi SOLO sebagai salah
satu kerangka konseptual dalam desain pembelajaran. Setiap aktivitas akademik,
mulai dari diskusi teoritik, analisis data, hingga penulisan disertasi,
diarahkan agar mahasiswa mengalami transisi dari sekadar mengetahui menuju
memahami secara mendalam.
Pendekatan ini menuntut mahasiswa
untuk tidak hanya membaca dan mengutip teori, tetapi juga mengaitkan berbagai
konsep lintas bidang, menemukan relevansi empirisnya, dan mengembangkan
argumentasi baru. Proses tersebut merupakan wujud nyata dari pembelajaran
mendalam — ketika ilmu tidak lagi dihafal, tetapi dihidupi.
Taksonomi SOLO juga memberikan
panduan bagi dosen dalam mengevaluasi capaian belajar. Evaluasi tidak lagi
terbatas pada jumlah pengetahuan yang dikuasai, melainkan pada sejauh mana
mahasiswa mampu menstrukturkan dan mengembangkan makna. Penilaian berbasis
kedalaman ini sejalan dengan semangat pendidikan doktoral yang menekankan
kualitas berpikir ilmiah, bukan sekadar keluaran administratif.
Teori ini menjadi semakin relevan
di era disrupsi, ketika dunia akademik dituntut melahirkan ilmuwan yang adaptif
dan reflektif. Mahasiswa doktor yang mampu berpikir pada level extended
abstract akan lebih siap berkontribusi dalam perumusan teori baru maupun
inovasi kebijakan pendidikan.
Program S3 Ilmu Pendidikan UNESA
menempatkan taksonomi SOLO bukan sekadar sebagai alat ukur, tetapi sebagai
panduan filosofis dalam menumbuhkan kualitas berpikir mendalam. Melalui
pendekatan ini, proses belajar di tingkat doktoral menjadi perjalanan intelektual
menuju kemandirian berpikir, kedewasaan ilmiah, dan kebijaksanaan akademik.
Tim Redaksi S3 Ilmu Pendidikan
UNESA