Teknik Membuat Peta Konsep untuk Merancang Model Pembelajaran Adaptif
Surabaya — Peta konsep (concept map) bukan sekadar alat bantu visual, tetapi jembatan berpikir yang membantu peneliti memahami hubungan antar gagasan dalam proses pembelajaran. Dalam konteks riset pendidikan, peta konsep berfungsi sebagai dasar konseptual dalam merancang model pembelajaran adaptif — model yang mampu menyesuaikan strategi dengan karakteristik, kebutuhan, dan dinamika peserta didik.
Langkah pertama dalam membuat
peta konsep adalah mengidentifikasi konsep utama yang menjadi inti
penelitian. Konsep ini dapat diperoleh dari kajian teori, kerangka konseptual,
atau hasil refleksi terhadap fenomena di lapangan. Misalnya, dalam riset
pembelajaran adaptif, konsep utama dapat berupa learner readiness, learning
analytics, dan personalized feedback.
Langkah kedua, susun hubungan
hierarkis antar konsep. Konsep utama ditempatkan di pusat atau bagian atas,
kemudian dihubungkan dengan subkonsep yang mendukung. Hubungan ini harus
bersifat logis dan menjelaskan alur berpikir peneliti. Novak dan Gowin (1984),
penggagas concept mapping, menegaskan bahwa peta konsep yang baik
mencerminkan struktur kognitif seseorang terhadap suatu domain pengetahuan.
Langkah ketiga, gunakan kata
penghubung yang bermakna. Setiap garis penghubung antar konsep sebaiknya
disertai kata seperti “menyebabkan,” “menguatkan,” atau “bergantung pada.”
Kata-kata ini membantu memperjelas jenis relasi antar konsep dan memudahkan
pembaca memahami arah berpikir peneliti.
Langkah keempat, gabungkan
hasil peta konsep dengan kerangka pembelajaran adaptif. Peneliti dapat
menandai bagian yang bersifat input (karakteristik siswa), process
(strategi pembelajaran), dan output (hasil belajar). Dengan demikian,
peta konsep tidak hanya menggambarkan teori, tetapi juga menjadi model kerja
yang bisa diuji secara empiris.
Langkah kelima, verifikasi
peta konsep melalui validasi teoretik dan empirik. Libatkan ahli bidang
pendidikan atau pakar kurikulum untuk menilai kesesuaian logika hubungan antar
konsep. Selanjutnya, peta dapat diuji di lapangan melalui expert review
atau pilot study agar desain model adaptif benar-benar relevan dengan
konteks nyata pembelajaran.
Langkah terakhir, visualisasikan
peta konsep dengan perangkat digital. Aplikasi seperti CmapTools, MindMeister,
atau Lucidchart memungkinkan peneliti membuat peta yang sistematis,
mudah diperbarui, dan siap dipublikasikan dalam laporan penelitian atau artikel
jurnal.
Pembuatan peta konsep tidak hanya
membantu perencanaan riset, tetapi juga melatih peneliti untuk berpikir dalam
pola yang terhubung — prinsip utama dari deep learning. Peneliti yang
mampu mengonseptualisasikan ide secara visual akan lebih mudah menemukan celah,
membangun teori, dan mengintegrasikan berbagai perspektif keilmuan.
Program S3 Ilmu Pendidikan UNESA
menempatkan kemampuan berpikir konseptual sebagai inti kompetensi akademik
doktoral. Melalui peta konsep yang sistematis, mahasiswa dapat merancang model
pembelajaran yang bukan hanya adaptif terhadap siswa, tetapi juga adaptif
terhadap perkembangan ilmu dan tantangan zaman.
Tim Redaksi S3 Ilmu Pendidikan
UNESA