Etika Keilmuan dan Integritas Akademik di Era AI
Surabaya — Kecerdasan buatan (AI) kini hadir di hampir setiap lini kehidupan akademik, dari pengumpulan data hingga penulisan ilmiah. Teknologi ini membuka peluang efisiensi dan kreativitas baru, tetapi juga menimbulkan tantangan serius bagi etika keilmuan dan integritas akademik. Di tengah kemudahan otomatisasi, pertanyaan fundamental muncul: bagaimana memastikan nilai kejujuran dan tanggung jawab ilmiah tetap terjaga?
Etika keilmuan tidak sekadar
berbicara tentang aturan formal, tetapi tentang komitmen moral terhadap
kebenaran dan keaslian pengetahuan. Pemanfaatan AI, seperti alat bantu analisis
teks, pendeteksi plagiarisme, hingga writing assistant, seharusnya
memperkuat kualitas riset, bukan menggantikan proses berpikir kritis peneliti.
Integritas akademik berarti menjaga keseimbangan antara memanfaatkan teknologi
dan tetap mengedepankan nilai-nilai ilmiah.
Menurut pandangan Zuboff (2019)
dalam konsep Surveillance Capitalism, teknologi digital memiliki potensi
untuk menggeser kontrol dari manusia ke sistem otomatis jika tidak disertai
kesadaran etis. Dalam konteks pendidikan tinggi, hal ini mengingatkan kita
bahwa tanggung jawab akademik tetap berada di tangan peneliti, bukan pada
algoritma. AI hanyalah alat, sedangkan integritas adalah keputusan moral.
Program Doktor Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menempatkan etika keilmuan sebagai bagian
penting dalam kurikulum. Mahasiswa doktor tidak hanya diajarkan teknik
penelitian mutakhir, tetapi juga refleksi mendalam tentang nilai-nilai ilmiah
seperti kejujuran, transparansi, dan tanggung jawab publik terhadap hasil
penelitian. Diskusi kritis mengenai penggunaan AI dalam penelitian menjadi
salah satu agenda penting di ruang kuliah dan seminar.
Integritas akademik di era AI
juga berkaitan dengan kemampuan literasi digital kritis. Mahasiswa doktor perlu
memahami cara kerja sistem kecerdasan buatan, potensi bias data, dan risiko
manipulasi hasil penelitian. Pemahaman ini membantu mereka menggunakan
teknologi secara bijak tanpa kehilangan esensi dari proses ilmiah itu sendiri —
yakni berpikir, meneliti, dan menulis dengan kesadaran etis.
Pendidikan doktoral memiliki
tanggung jawab besar membentuk generasi ilmuwan yang tidak hanya cerdas, tetapi
juga berintegritas. Di tengah derasnya arus otomatisasi, nilai-nilai etika
menjadi jangkar yang menjaga dunia akademik tetap bermartabat. Teknologi dapat
mempercepat penemuan, namun hanya manusia berintegritas yang mampu memastikan
pengetahuan digunakan untuk kemaslahatan.
Tim Redaksi S3 Ilmu Pendidikan
UNESA